Gadget Dapat Memicu Anak Tidak “Peka”

Gadget tidak selamanya hanya membawa pengaruh positif. Seringkali para orang tua tidak menyadari hal ini ketika membeli gadget pertama untuk anak-anak mereka yang masih di bawah umur. Celakanya, jika hal ini terus dilanjutkan, bukan hanya orang tua saja yang dirugikan. Masa depan kehidupan sosial anak pun bisa berantakan.

Anak-anak yang terus memakai gadget selama berjam-jam tiap harinya diklaim memiliki potensi besar kehilangan kemampuan untuk memahami perasaan orang lain di kehidupan nyata. Sensitifitas mereka terhadap ekspresi wajah dan lingkungan sekitar pun akan menurun drastis.

Menurut Profesor psikologi asal Universitas California, Patricia Greenfield, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kondisi anak seperti semula adalah dengan menjauhkan mereka dari segala jenis gadget. Bahkan, laptop dan TV digital pun masuk dalam kriteria perangkat elektronik yang harus dijauhkan dari anak-anak, Daily Mail (22/08).

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Profesor Greenfield, sekitar 100 siswa SD berumur 11 sampai 12 tahun diundang untuk mengikuti sebuah perkemahan. Selama di perkemahan mereka dilarang untuk menggunakan gadget. Tidak sedikit dari mereka yang merasa tidak nyaman di hari-hari pertama diterapkannya peraturan tersebut.

Namun, perubahan positif mulai terlihat di hari kelima. Siswa-siswa yang sama sekali tidak bersentuhan dengan gadget dan alat elektronik lain mampu mengerjakan tes mengenali ekspresi wajah lebih baik dari mereka yang masih bersinggungan dengan gadget.

Rata-rata mereka salah menebak ekspresi yang ditampilkan pada suatu gambar hingga 14 kali sebelum perkemahan. Jumlah kesalahan tersebut menurun menjadi 9 kali saja setelah perkemahan berakhir.

Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan anak-anak tidak bisa mempelajari perasaan dan ekspresi seseorang hanya dengan melihatnya dari sebuah layar gadget. Interaksi langsung sangat dibutuhkan agar anak tidak kehilangan kemampuan bersosialisasi yang sangat dibutuhkan ketika mereka beranjak dewasa.

Pemimpin dari penelitian tersebut, Profesor Yalda Uhls, menambahkan jika manusia tidak bisa menggantikan ekspresi wajah hanya dengan ‘emotikon’ saja. Sampai saat ini, komunikasi dengan bertatap muka masih menjadi cara terbaik untuk bersosialisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>