Tujuan dan Fungsi UN 2015

Bicara masalah pendidikan, beberapa tahun terakhir ini Indonesia dihadapkan kepada satu cara yang menentukan keberhasilan para peserta didik yang berada di pendidikan yang telah mereka tempuh selama bertahun-tahun dan pada akhir pendidikan tersebut, masa depan mereka harus ditentukan dua kata yaitu Ujian Nasional (UN). Dengan adanya dua kata ini masa depan mereka benar-benar ditentukan apakah mereka akan tetap melangkah maju atau sebaliknya berhenti ditempat, tetapi konsep ini merupakan konsep lama yang ada pada UN.

Ujian Nasional (UN) yang merupakan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Walaupun sebagian pengamat berpendapat bahwa Ujian Nasional Dinilai Gagal Meningkatkan Kualitas Pendidikan akan tetapi Pemerintah tetap berkomitmen bahwa ujian nasional (UN) sebagai satu diantara indikator kelulusan harus tetap dilaksanakan. Menurut Pemerintah, UN masih merupakan satu diatara sarana yang dipandang ideal untuk memetakan mutu pendidikan. Tanpa UN dinilai sulit melakukan pemetaan dan akan berdampak buruk, khususnya pada daerah-daerah yang pembangunan pendidikannya masih lemah yang mungkin tidak ada dilaksanakan di negara-negara lain justru menjadi satu persoalan dalam mensejahterakan kehidupan bangsa, pertanyaanya bagaimana dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa? UN seharusnya bukan sebagai penentu keberhasilan pendidikan bagi anak-anak perserta didik di tingkat sekolah dasar dan menengah.

Pertanyaannya adalah bagaimanakah dengan penyelengraan UN pada 2015 ini? Ujian nasional (UN) tahun ini akan kembali diselenggarakan pada 13-15 April 2015 untuk SMA/SMK/sederajat dan 4-7 Mei 2015 untuk SMP/sederajat. Kebijakan UN tahun ini tidak lagi berfungsi sebagai penentu kelulusan siswa. Sekolah diberikan kewenangan menilai secara komprehensif seluruh komponen pada siswa untuk menyatakan tamat atau tidaknya peserta didik dari jenjang pendidikan tertentu. Demikian salah satu isi dalam jumpa pers yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, di kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (23/1/2015). “Kementerian menyadari, kita tidak bisa menilai mutu layanan pendidikan semata-mata dari satu indikator. UN hanya satu dari sekian banyak indikator dalam standar nasional pendidikan. Dalam konteks evaluasi hasil belajar, UN bukan hanya satu-satunya, tetapi satu dari banyak indikator untuk menilai kinerja layanan pendidikan,” tutur Mendikbud di hadapan para awak media.

sesuai dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, siswa sesungguhnya berhak mengetahui capaian kompetensinya dan negara berkewajiban memenuhi hak itu. “Jadi pengukuran capaian standar kompetensi lulusan adalah peran negara untuk memenuhi hak peserta didik,” tambahnya. Mendikbud mengatakan, UN seharusnya memberi dampak positif bagi siswa, guru, dan komunitas pendidikan yang lebih luas lagi. Namun, kenyataan di lapangan justru menimbulkan perilaku negatif, seperti terjadinya kecurangan, siswa mengalami distress, dan lain-lain. “Mengapa ini terjadi? Karena sifat ujiannya itu high-stake testing. Nah, kita ingin mengubahnya,” ucap Mendikbud.

Maka, upaya perbaikan yang dilakukan adalah dengan memperbaiki mutu pendidikan melalui berbagai alat pengukuran yang bukan hanya UN, memberikan otonomi pada sekolah dan mengurangi tekanan yang tidak perlu, dengan cara memisahkan ujian nasional dari kelulusan. “Kita juga ingin memperbaiki sistem penilaian menjadi lebih bermakna, dan mendorong pembelajaran serta integritas,” kata Mendikbud.

Dari upaya perbaikan itu, Mendikbud memaparkan rencana perubahan yang akan terjadi pada UN tahun ini. Pertama, UN tidak untuk kelulusan. Sekolah sepenuhnya diberikan kewenangan mempertimbangkan seluruh aspek dari proses pembelajaran, termasuk komponen perilaku siswa untuk menentukan lulus tidaknya mereka dari jenjang pendidikan tertentu.

Kedua, UN dapat ditempuh lebih dari sekali. “Bagi mereka yang hasilnya kurang, punya kesempatan memperbaiki dan mengambil ujian ulang. Karena tujuan UN kan bukan menjadi hakim, tapi alat pembelajaran. Kita ingin mengubah UN dari sekadar alat menilai hasil belajar, tetapi alat untuk belajar,” tandanya.

Ketiga, UN wajib diambil minimal satu kali oleh setiap peserta didik. “Tahun ini kita tidak menyelenggarakan ujian ulang, karena 2015 ini transisi. Konsep ini akan diterapkan tahun depan. Bagaimana caranya? Awal semester akhir peserta didik sudah dapat mengambil UN. Dan bila diperlukan ada perbaikan, maka mereka bisa melakukan perbaikan di akhir semester akhir. Tapi ini baru bisa diterapkan di 2016,” ungkap Mendikbud.

Mendikbud Anies Baswedan : tentang Peserta UN 2015; Peserta UN SMP berjumlah 3.773.372 siswa. Peserta UN SMA berjumlah 1.632.757 siswa. Peserta UN SMK berjumlah 1.171.907 siswa. Jumlah naskah UN untuk SMP, SMA, dan SMK seluruhnya berjumlah 7,3 juta eksemplar.

Inilah konsep baru UN yang akan terlaksana pada 2015 ini. “ Pelaksanaan UN yang sangat kuhormati ternyata tak sesakral itu. Sungguh aku tak menyangka, penyelenggaraan UN disekolahku dipenuhi aksi menyontek massal dan pemberian kunci jawaban oleh oknum guru. Setengah jam sebelum pelaksanaan UN, murid-murid telah sibuk mempersiapkan kunci jawaban yang telah diberikan kepada mereka secara terang-terangan. Lebih parahnya, selama UN berlangsung, para murid dengan bebas berinteraksi dengan murid lainnya. Mereka berbagi kunci jawaban, dan itu dilakukan di depan pengawas. Sementara itu, sang pengawas tampanya sengaja membiarkan kondisi tersebut. Ibaratnya, sudah “tahu sama tahu” saja”. (Dari buku Andri Rizki Putra “Orang Jujur Tidak Sekolah” Hal 29.) dan hal seperti ini janganlah sampai terjadi lagi, karena para siswa tidak perlu terlalu kawatir dengan pelaksanaan UN yang dulunya sebagai penentu kelulusan. Tetapi bukan sebaliknya harus bersantai-santai, Karena nilai UN merupakan syarat untuk masuk perguruan tinggi. Bahkan nilai UN juga diakui untuk masuk perguruan tinggi di luar negeri. Kita harus bangga karena ada standar lokal untuk masuk perguruan tinggi yang di akui di dunia internasional.

Bercermin dari sejarah Bapak Pendidikan di Indonesia, Ki hadjar Dewantara dan melihat apa yang telah dilakukan beliau dalam merintis dan membentuk anak-anak bangsa yang cerdas dan harapannya akan membawa bangsa ini kearah yang lebih baik dengan mendirikan perguruan taman siswa. Wajib kita hargai dengan cara terus mengembangkan pendidikan di Negara ini agar menghasilkan generasi emas bagi bangsa dan menciptakan suatu pendidikan yang benar-benar mencerdaskan kehipan bangsa ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>