Polemik Kurikulum 2013

MAN Lumajang (2014) Pada sebulan terakhir ini saya mencoba mencermati pengembangan kurikulum 2013. Saya tidak tahu kenapa pemerintah memakai istilah “Pengembangan”, karena pengembangan terkesan tidak ada yang berubah… he… he… hanya dikembangkan. Dan dikembangkan dari titik tolak apa? KTSP kah? Tapi kenapa disebut Kurikulum 2013? Itulah pertanyaan yg timbul.

Sebenarnya sebagai seorang guru tidaklah risau dengan perubahan ini, karena kurikulum hanyalah satu faktor yang harus diterjemahkan oleh guru ke dalam kegiatan belajar murid. Proses kreatif seorang guru lah yang akan menentukan kebermaknaan proses belajar yang dialami oleh murid. Tetapi secara “misi nasional” kita yang ingin mengarahkan anak bangsa siap menghadapi tantangan global ke depan itulah yang merisaukan para pendidik.

Pada sebuah kesempatan berdiskusi dengan penggiat dan pemerhati pendidikan, yang dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan beserta rengrengannya (baca: jajarannya), sedikit demi sedikit ada penambahan informasi tentang Kurikulum 2013 ini. Ada beberapa butir pemikiran yang melintas di benak saya:

Pertama, pemahaman tentang urgensi adanya perubahan/pengembangan. Jika kita membaca isi (muatan) kurikulum 2013 dan arah perubahan y ang ingin dibawa, maka saya sepakat bahwa itu baik, dan saya pun cukup familiar dengan tren pendidikan ke depan karena selama tahun-tahun terakhir menjadi kepala sekolah di sebuah lembaga pendidikan yang berafiliasi ke sistem pendidikan di Amerika. Paling tidak dapat terbaca pola perkembangan konsep pendidikan ke depan. Tetapi permasalahannya adalah kenapa harus berubah? Sudah sejauh mana konsep dan penerapan kurikulum sebelumnya dievaluasi? Dan apakah ada hubungan antara alasan perubahan dengan perubahan itu sendiri? Misalnya, apakah pola pendekatan Teacher Centered yang mau diubah menjadi Student Centered dapat dijawab dengan perubahan/pengembangan kurikulum?

Kedua, arah kurikulum yang ingin tematik integratif. Terkadang jika kita tidak berhati-hati maka akan kehilangan fokus dan titik berat dari penyampaian materi. Khusus untuk SD pengintegrasian IPA dan IPS ke mata pelajaran lain dapat menjadi kontra produktif dengan semangat Tematik Integratif tersebut. Saya memang mengenal keterpaduan antara IPA dengan Bahasa Indonesia karena IPA dapat memberikan tema kepada pelajaran bahasa. Apalagi jika IPA secara terpisah diajarkan dalam bahasa Inggris, maka masuknya muatan (tema IPA) ke dalam bahasa Indonesia akan sangat membantu murid memahami baik bahasa maupun IPA. Tetapi kita harus dengan cermat memberi titik berat muatan pengajaran antara keterampilan berbahasa dan konsep IPA. Dan apakah guru-guru SD di Indonesia sudah siap menjalankan ini?

Ketiga, terdegradasinya bahasa Inggris tingkat SD, khususnya di Jkt dan kota besar lain. Dari yang semula sebagai Muatan Lokal menjadi ekstra kurikuler. Patut disayangkan karena menurut hemat saya bahasa Inggris dapat membantu muatan IPS dan persiapan anak-anak dalam penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional.(zack)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>