Halal bihalal adalah salah satu tradisi yang berkembang di kalangan masyarakat Islam Indonesia. Tradisi ini biasa dilakukan pasca Lebaran, tepatnya di bulan Syawal.

Tradisi halal bihalal menjadi kegiatan tahunan yang bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan saling memaafkan. Meskipun istilah tersebut berasal dari bahasa Arab, namun tradisi ini disebut lahir dari masyarakat Indonesia sendiri. Halal bihalal pada intinya merupakan kegiatan silaturahmi dan saling memaafkan.

Ada berbagai macam versi mengenai sejarah lahirnya tradisi halal bihalal di Indonesia. Halal bihalal ini erat kaitannya dengan tradisi riyaya (Lebaran) yang menonjol pada masyarakat Jawa.

Mengutip Ensiklopedi Islam Nusantara Edisi Budaya, Ali Mashar mengatakan bahwa istilah halal bihalal dipercaya merupakan istilah yang diciptakan oleh Kiai Abdul Wahab Chasbullah, salah seorang kiai Nahdlatul Ulama. Pendapat ini merujuk pada tulisan Masdar Farid Mas’udi, salah satu Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurut versi tersebut, sejarah halal bihalal bermula pada 1948 kala Indonesia baru berdiri dan dilanda gejala disintegrasi bangsa. Di mana banyak perseteruan di antara elit politik dan pemberontakan DI/TII maupun Partai Komunis Indonesia (PKI) sedang menerjang.

Pada saat itu, Kiai Abdul Wahab lalu mengusulkan untuk mengumpulkan semua tokoh politik dalam acara silaturahmi bertepatan dengan hari raya yang akan datang. Kala itu, Soekarno menganggap silaturahmi biasa tidak akan membuat para politisi tertarik dan mau datang. Kemudian, muncullah ide dari Kiai Wahab untuk membuat acara halal bihalal yang kemudian di setujui oleh Presiden Ir. Sukarno.

Tradisi ini juga dilaksanakan oleh keluarga besar MAN Lumajang dengan di gelar pada hari Ahad, 8 Mei 2022 bertempat di rumah kepala MAN Lumajang di desa Tanggung Kecamatan Padang Kabupaten Lumajang. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Suami atau Istri Ustadz dan Ustadzah Karyawan MAN Lumajang dengan jumlah lebih dari 130 orang.

Selain itu hadir dalam memberikan tausiyah dengan dikemas Mauidhotul Hasanah yakni H. Abdullah Mufid, MA yang juga Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Kyai Syarifudin Wonorejo Lumajang. Suasana semakin cair dan hangat saat Kyai Mufid memberikan joke atau candaan di dalam tausiyahnya. (mz zoe)

Leave a Comment